Audit struktur menjadi upaya yang perlu Anda lakukan untuk mengetahui kondisi struktur bangunan. Anda jadi tahu apakah struktur dalam kondisi baik atau perlu adanya upaya perkuatan struktur untuk menjaga kualitasnya. Dengan begitu, Anda bisa mencegah terjadinya bencana yang tak diinginkan, misalnya bangunan roboh.
Mengingat pentingnya audit struktur, Anda perlu memastikan proses pelaksanaannya berlangsung dengan benar. Ada beberapa tahapan yang perlu Anda ketahui dalam proses pelaksanaan audit struktural, yakni:
1. Inspeksi Visual
Tahapan pertama dalam audit struktur adalah inspeksi visual. Dari pengamatan visual, inspektor bisa mengetahui adanya berbagai faktor, termasuk di antaranya adalah:
- Riwayat perbaikan
- Retakan
- Pengeroposan/korosi
- Defleksi atau pembelokan
- Penurunan atau settlement
- Lubang di dalam struktur
2. Tes Nondeskruktif
Terdapat berbagai jenis pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi aktual dari struktur bangunan. Proses pelaksanaannya berlangsung tanpa menimbulkan kerusakan pada bangunan.
Ada berbagai jenis tes nondestruktif yang bisa dilaksanakan, di antaranya adalah:
A. Rebar Scanner
Ada pula tes nondestruktif menggunakan metode rebar scanner. Pelaksanaannya berlangsung dengan melakukan pemindaian pada permukaan beton. Proses pemindaian berfungsi untuk mengetahui jumlah tulangan, konfigurasi tulangan, dan kedalaman selimut beton.
B. Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) Test
UPV test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan beton. Tes dilakukan dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik pada struktur selama beberapa waktu.
Data terkait tingkat kekuatan struktur dapat diketahui dengan mengukur kecepatan gelombang. Beton yang mempunyai tingkat kerapatan tinggi merupakan indikasi struktur berkualitas bagus.
C. Hammer Test
Ada pula proses pengujian yang disebut dengan istilah hammer test. Tes ini dilakukan menggunakan alat khusus yang disebut schmidt hammer. Pemakaiannya bertujuan untuk mengetahui tingkat kekerasan permukaan beton dan sekaligus kekuatannya.
3. Destructive Test
Selain non-destructive test, ada pula pelaksanaan destructive test yang dilakukan dengan melakukan perusakan pada struktur bangunan. Beberapa jenis metode destructive test yang dilakukan antara lain:
A. Tensile Test
Pelaksanaan tensile testing berlangsung dengan melakukan penarikan material struktur sampai putus. Tujuannya adalah untuk mengetahui daya tahan struktur terhadap gaya tarik.
B. Compression Test
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui daya tekan dari material struktur. Pelaksanaannya berlangsung dengan menggunakan mesin untuk menekan material struktur sampai hancur. Umumnya sebelum dilakukan uji tekan ini, beton di lapangan akan di coring yaitu pengambilan sampel inti beton dengan cara pengeboran yang sampelnya akan dibawa ke laboratorium.
4. Analisis Struktur Bangunan
Hasil pengujian yang telah dilakukan disusun menjadi sebuah laporan hasil pengujian. Setelah itu, ada tahapan perhitungan pemodelan dan analisis untuk mendapatkan hasilnya. Anda pun bisa mengetahui apakah struktur bangunan dalam kondisi layak atau tidak.
5. Perbaikan
Tahapan terakhir, Anda dapat melakukan proses perbaikan atau perkuatan struktur sesuai dengan saran yang diberikan oleh konsultan. Metode yang bisa digunakan untuk upaya menguatkan struktur bangunan bisa sangat beragam, termasuk di antaranya adalah cement grouting, waterproofing, epoxy crack treatment, recasting maupun jacketing.
Itulah tahapan dalam proses pelaksanaan audit struktur yang penting untuk Anda ketahui. Pengetahuan ini bisa menjadi gambaran untuk mengetahui cara kerja dalam proses pelaksanaan audit struktur bangunan.